Panggilan Hati

 

Panggilan Hati
By IbunRayya

"Tri, bisa diceritakan motivasi Gayatri memilih berjilbab untuk ke sekolah? Padahal aku lihat, dari lingkungan dan keluarga belum ada yang berjilbab?" tanya Sera, teman sekaligus tim dari kelompok media yang sedang bertugas melakukan wawancara untuk majalah sekolah.

Kamera digital Sendy merekam percakapan aku dan Sera siang ini. Di taman dekat lapangan basket, aku mengikuti instruksi. Teriknya matahari tak begitu terasa, sebab diiringi udara yang bergerak sepoi-sepoi. Mengibarkan jilbab putihku yang menjuntai hingga dada.

Entah karena alasan apa, kelompok media menjadikanku sebagai salah satu narasumber yang akan dimuat dalam majalah sekolah.

Aku membenarkan posisi duduk, sebelum menjawab pertanyaan Sera. Mengenang masa itu, sering membuatku tersenyum sekaligus menangis.

"Jadi, semua bermula sejak aku masih di kelas sembilan," kataku pelan menatap kedepan. Anganku melayang ke waktu itu.

Hari itu aku ke sekolah untuk mendapatkan pengumuman. Setelahnya langsung pulang, karena Bapak meminta bantuan memanen timun yang sudah mulai matang.

Sorenya, saat Emak sudah pulang dari pasar, aku mencarinya. Kutemukan Emak sedang mempersiapkan bahan masakan untuk besok pagi di emperan.

"Mak, ini rincian biaya yang harus dibayarkan besok," kataku sambil menyerahkan selembar kertas yang kudapat dari sekolah.

"Berapa, Nok?" tanya Emak yang sedang memotong-motong sayur di emperan rumah.

"Satu juta dua ratus lima puluh ribu, Mak." Kertas kembali kuraih, dan kuteliti agar tak keliru. Masih berdiri di hadapan Emak yang belum menatapku saat berbicara.

"Lah, kok banyak banget, Nok. Tadi Lek Jum bilang cuma bayar satu juta." Emak selalu saja begitu, sebelum bertanya padaku, akan mendapatkan informasi lebih dulu dari teman berdagangnya di pasar.

Kali ini berbeda. Kali ini nominal yang aku kabarkan yang lebih banyak dari info yang Emak terima. Biasanya aku akan mendapatkan pujian karena uang yang harus dibayarkan lebih sedikit daripada Lek Jum, yang disebabkan Deni putranya melebihkan.

"Kenapa beda, Nok?" tanya Emak penasaran.

Aku duduk di dekat emak. Angin sore yang sejuk menerpa wajah membuat sensasi tenang.

"Mak, biasanya kan juga beda. Ini karena aku butuh kain buat seragam yang lebih panjang daripada Deni."

"Ehm, seinget Emak, dulu waktu masuk SMP gak beda jauh deh, Nok. Malah sama plek," sanggah Emak.

Aku sangat paham dengan sifat Emak. Perhitungan dan terkesan pelit memang. Namun, aku juga tahu bahwa semua itu demi kebaikan.

Dulu, saat masih TK aku sangat menginginkan sebuah boneka beruang. Hampir semua teman-temanku memiliki boneka minimal satu buah. Sedangkan aku, hingga sekarang belum pernah merasakan memiliki satu pun boneka. Aku hanya bisa meminjamnya dari teman, saat bermain bersama.

"Iya, Mak. Memang beda sama pas SMP dulu. Yatri ingin mengenakan seragam panjang dengan jilbab, jadi harganya lumayan lebih mahal." Aku menjawab pelan, agar Emak paham.

"Maksudnya, Nok?" tanya Emak.

"Yatri pengen pakai jilbab ke sekolah, Mak. Ehm, nggak cuma ke sekolah. Ke mana aja, Mak. Yatri mau berjilbab mulai sekarang."

Tiba-tiba Mbak Lastri ikut menyahut dari depan gerbang.

"Serius, Yat? Nggak takut panas dan kegerahan? Kamu, kan kudu bantuin Emak sepulang sekolah. Kadang bantuin bapak ke sawah?" tanya Mbak Lastri penasaran.

"Serius, Mbak Las. Aku sudah niat sejak lama. Sejak kelas delapan dulu. Hanya saja, aku tahu gak ada biaya buat ganti seragam yang lebih panjang. Jadi, aku bersabar hingga masa ini."

"Emak nggak setuju, Nok. Emak takut orang-orang ngira kamu ikut aliran macam-macam, malah banyak yang curiga nantinya!"

"Mbak Las juga nggak setuju, Dek. Kamu mungkin akan kesulitan beradaptasi kalau pakai jilbab ke sekolah. Selain gerah dan panas, kamu juga nggak bisa bebas bergerak kalau bajunya panjang kaya gitu buat jualan atau bantu di sawah," elak Mbak Las menggebu.

"Emak, ini bukan karena bayarnya lebih mahal, 'kan? Kalau memang iya, nanti jatah uang saku Yatri bisa emak kurangi." Aku nekat mengambil sikap.

"Kalau karena alasan Emak tadi, Emak nggak usah khawatir. Karena memang Yatri nggak ikut aliran macam-macam, Yatri murni pengen karena keinginan Yatri sendiri. Nggak ada yang ngajakin, nggak ada yang maksa, nggak ada yang ngasih hadiah juga, hahaha," jelasku geli sendiri.

"Udah magrib kita salat dulu, nanti kita lanjutkan ngobrolnya. Sama Bapak juga," ucap Emak sambil berjalan ke dalam rumah.

***

Di sekolah SMP-ku dulu hanya ada satu siswi yang berjilbab. Merupakan salah satu teman dekatku. Nampaknya memang sudah dari keluarganya begitu. Bukan kesadaran diri. Namun, tetap saja itu sangat mengusik hatiku, aku sangat ingin sepertinya. Kadang,aku merasa iri dengannya.

Suatu hari, saat akan menghadapi ujian nasional. Sekolah mengadakan pelajaran tambahan secara materi dan juga mental. Lebih seperti diadakan kajian keagamaan, dengan mengundang narasumber dari luar.

"Tri, jangan lupa nanti yang baca Kalam ilahi kamu, ya. Acaranya di lapangan basket," teriak Rika salah satu panitia acara.

Aku sedang makan siang seusai pelajaran terakhir. Belum sempat persiapan, karena memang dadakan. Selalu begini, kalau ada acara tanpa persiapan akulah yang dipaksa membaca Qur'an di acara pembukaan. Padahal aku belum berjilbab, pun suaraku tidak terlalu bagus.

Usai aku menunaikan tugas, aku kembali duduk di antara teman-teman lainnya, menyimak mauidhoh hasanah dari seorang mubaligh yang baru kuketahui.

"Anak-anak yang saya cintai, 3 hal yang akan membantu orang yang sudah mati. Ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tua."

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (Al Isra: 23)."

***

Aku hanya ingin berbakti kepada kedua orangtua. Selain membantu mereka semampuku, belajar giat agar tetap jadi juara kelas, menutup aurat dengan berjilbab adalah salah satu ikhtiar yang lain. Kata ustad di acara SMP itu, setiap wanita yang sudah baligh bila tak menutup aurat dengan benar, dosanya tidak hanya untuknya tapi orangtuanya juga. Aku takut, gara-gara itu bapak emakku akan menderita.

"Gimana, Pak, Mak?" tanyaku to the poin. Selepas isya penghuni rumah akan berkumpul di ruang tengah sekedar menonton TV, belajar atau bercengkerama. Aku sudah tak sabar menunggu keputusan mereka, jadi bertanya lebih dulu.

"Nok, Bapak ndak suka kamu ikut fanatik-fanatik gitu, islam itu agama rahmatan lil alamin." Bapak membuka suara setelah berdehem pelan.

Aku sangat mengidolakan Bapak. Meski tak lulus sekolah dasar, wawasannya tentang agama, masyarakat dan segala aspek sangat luas dan dalam. Paling bersemangat kalau sudah berdiskusi pelajaran sejarah.

"Iya, Pak. Yatri tidak ikut-ikutan yang aneh-aneh. Hanya kepengen berjilbab saja. Mungkin di awali berjilbab di sekolah dulu. Nanti yang lain menyesuaikan."

"Baiklah, Nok. Bapak lihat kamu sangat serius dan yakin dengan pilihanmu. Bapak tidak keberatan selama janjimu tidak ikutan yang aneh-aneh kamu pegang." Bagai angin segar, jawaban Bapak mampu membuat bibirku tertarik ke atas.

"Alhamdulillah, makasih, Pak."

"Emak juga ndak keberatan, Nok."

"Mbak Las juga akan mendukungmu, Dek. Bila ada yang nyinyir, katakan pada mbakyumu ini. Akan Mbak Las sikat!"

Aku menghambur memeluk Emak dan berterima kasih. Tak kusangka akan semudah ini, karena bayanganku akan susah mendapatkan ijin dari mereka. Maafkan Gayatri yang sudah suudzon ya, Mak, Pak, Mbak Las.

Tamat

Komentar

  1. Cerita jelas dengan alur yang runut dan saya terbawa hanyut dalam ceritanya

    BalasHapus
  2. Wah, hebat masih muda Gayatri sudah bisa memiliki keteguhan untuk melaksanakan perintah agamanya.

    BalasHapus
  3. Ternyata niat yang baik, maka akan ada seribu jalan ya mbk... Trims mbk

    BalasHapus
  4. Cerita yang singkat tapi bisa menyampaikan pesan dengan sangat lengkap.

    Selama memiliki niat yang baik di jalan Alloh S.W.T. pasti akan diberi jalan terbaik.

    BalasHapus
  5. Jadi seger baca cerpen di blog, biasanya serius serius hehe.

    Lanjutkan perjuanganmu ya, Yatri

    BalasHapus
  6. Ceritanya sungguh bermakna mbak. Tambahan sedikit, ending wawancara emang nggak dituliskan ya?

    BalasHapus
  7. Kisahnya jadi inget waktu awal aku mau dijilbab, pasti yg ditanya duluam "yakin gak kepanasan?" Tapi ortu selalu dukung gak pernah melarang atau gimana~ btw bagus ceritanya, inspiratif banget

    BalasHapus
  8. jadi ingat saaat memakai kerudung pertama kali dulu

    BalasHapus
  9. Aliran aneh-aneh, iya sih, banyak yang jadi khawatir, tapi biasanya ketika anak-anak mulai kuliah ketakutan itu dialami orang tua.

    BalasHapus
  10. Bagus ceritanya mbak. Biasanya blogwalking baca review, tips, pengalaman, dll. Ini tumben baca cerpen, sudah lama ngga baca cerpen soalnya. Hehe

    BalasHapus
  11. Banyak hikmah yang bisa kita renungi dari setiap kisah, sekalipun itu sebuah cerpen, keren Mba

    BalasHapus
  12. masyaallah... emang kalo niat baik, insyaallah selalu ada jalan

    BalasHapus
  13. langsung salfok sama nama kameramen heheheh.. aku jg kemaremen di cerita ini :D
    ceritanya bagus, Mb. banyak pesan yang tersirat.

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah ya bun.. Gayatri ga perlu ada konflik sama ortunya... 😃

    BalasHapus
  15. Baca ini jadi mengingatkan asal mula pakai jilbab juga

    BalasHapus
  16. Jadi ingat saat dulu mau pakai kerudung ke sekolah, ditanyakan apa niatnya sudah bulat atau hanya ikut-ikutan teman saja

    BalasHapus
  17. Bagus banget ceritanya, gayatri memiliki keberanian yang patut dicontoh. Keren!

    BalasHapus
  18. Cerita yang penuh hikmah. Hidayah tidak memandang usia ya...

    BalasHapus
  19. Waah, jadi inget banget perjalanan awal pake hijab, dari TK pengen banget tapi belum boleh, sampe umur 17 akhirnya berani ngajuin ke keluarga dengan alasna umur 17 udah baligh hihi

    BalasHapus

Posting Komentar