Terima Kasih Andong

pict: dokumentasi pribadi



 Terima Kasih, Andong

By IbunRayya


Aku tidak diajak pergi ke pantai hari ini. Donita dan Marsya bersama pasangan mereka masing-masing, sehingga tidak enak untuk mengajakku yang jomlo ini. Jomlo diantara teman-teman yang berpasangan begini, rasanya? Sesuatu. 


Seminggu berkutat dengan praktikum dan laporan yang melelahkan, membuat setiap mahasiswa berlomba menyegarkan diri dan pikiran saat ada kesempatan. Seperti hari ini. Libur tiga hari berturut-turut. Ini adalah hal langka. Sebab biasanya lebih banyak lagi jadwal praktikum di hari Sabtu dan Minggu.


Aku masih kebingungan untuk memanfaatkan hari libur langka ini. Dua teman sudah pergi. Masih ada dua teman lagi yang bisa aku ajak liburan. Tetapi aku ragu, apakah mereka belum ada agenda.


"La, ikut nggak?" tanya Sisil mendekati bangku hijau. Ada dua bangku di ruang tamu kontrakan, bangku merah yang sedang aku duduki dan bangku hijau di seberang meja.


"Ke mana, Sil?" 


"Ikut ajak, yuk. Daripada di kos sendirian."


***


Hampir dua jam perjalanan dari indekos,  aku dan rombongan tiba di lokasi. Sebuah base camp pendakian gunung di Jawa Tengah yang sedang viral. Begitu yang diceritakan Sisil tadi. 


"Emang mau ngapain, Sil?" 


"Lihat yang seger-seger lah. Daripada muter-muter mall, aja. Sambil mentadaburi alam semesta, bener, kan?"


"Di mana emang itu lokasinya?"


Gunung yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan ketinggian 1726 mdpl. Sangat digemari calon pendaki atau pendaki pemula yang belum pernah naik gunung sekalipun. Selain treknya yang ringan dilewati, pemandangan indah yang disuguhkan pada tiap titik tak kalah dengan gunung tinggi.


Sisil benar. Begitu tiba di base camp, pemandangan hijau menyegarkan mata sudah menyambut kami. Meski adalah barisan rumah yang berjajar tetap saja, halaman depan, samping dan belakangnya adalah luasan lahan yang masih hijau. Entah tanaman buah, sayur maupun bebungaan berwarna-warni.


Kram di telapak tangan, nyeri punggung  dan rasa capek akibat perjalanan dua jam tak lagi terasa. Tergantikan dengan hati yang tenang dan udara yang segar.


"Gara!" sebuah uluran tangan mendekat ke hadapanku begitu turun dari sepeda motor hitam. 


Dia yang tadi dengan sukarela bertukar tempat dengan Sisil. Maksudnya aku dan Sisil berada di motor yang sama. Perjalanan hampir satu jam aku yang mengendarai merasa capek dan tak kuat lagi. Sisil tidak bisa bertukar di depan mengemudi. Maka, aku berpindah ke motor lain yang satu rombongan.


Aku hanya tersenyum menyambut uluran tangan kekar itu. Dia mengenakan kaos polos warna hitam. Tangan dan lengannya menampakkan otot-otot yang besar seolah sering dilatih. 


"Maafin ya, Mas. Dia nggak salaman sama cowok," sela Sisil menyelamatkanku.


"Oke." 


"Saya, Bela." Aku menyebutkan nama. Dia masih menatapku seolah tak percaya, uluran tangannya tak disambut lawan bicara.


"Nama yang cantik. Seperti orangnya." Tampak matanya mengerling menggoda.


"Ah, aku tak boleh terjebak dalam perasaan itu!" titahku dalam hati.


"Makasih," jawabku sekenanya.


Ada tiga motor selain motorku dalam rombongan. Dua motor boncengan cowok cewek, dan sisanya motorku dan motor Mas Gara. Mas? Iya aku hanya mengikuti yang diucapkan Sisil.


Usai  berkenalan, mendaftarkan diri di loket dan berdoa bersama. Aku dan rombongan mulai berjalan menuju puncak. Dua pasangan yang berboncengan motor memang sepasang kekasih, mereka berjalan dengan tangan saling bertautan. Sisil dan Mas Teguh meski tak bergandengan tangan, mereka berjalan beriringan. Di belakangnya aku sendirian. Disusul Mas Gara yang terakhir.


Formasi macam apa ini? Ah, aku lupa menanyakan pada Sisil sebelumnya siapa saja rombongan yang ikut. Kalau tahu begini ceritanya, aku memilih tiduran saja di kamar. Benar-benar tidak nyaman.


***


Masih saja terngiang kepingan demi kepingan kejadian saat pendakian di Gunung Andong. Meski orang melihatnya biasa saja, bagiku itu adalah perjalanan berharga. Karena dari sana, aku menemukan cinta.


Tanpa ada kabar dan berita, tiga bulan sejak berkenalan di basecamp itu. Dia datang ke rumah menemui Bapak dan Ibu. Entah informasi dari mana tentang alamat tinggalku. Akupun tak tahu.


Dia bersama Ibunya. Dengan resmi memintaku menjadi pasangan halalnya. Dengan cepat aku mengiyakan.


Aku tak paham, keyakinan dari mana sehingga dengan cepat aku memutuskan. Tetapi seingatku ada sebuah pepatah lama yang mengungkapkan bahwa kamu akan tahu kualitas seseorang setelah bermualah, berpergian jauh bersama atau hidup satu rumah. 



Komentar

Postingan Populer