Suroloyo, Wiwite Tresno
Suroloyo, Wiwite Tresno
By Ibun Rayya
Gambar: Penulis ketika berkunjung di SuroloyoWeekend lalu Mutia mengikuti agenda Kakak pertamanya, berwisata ke puncak Suroloyo. Entah mendapatkan bisikan dari mana, gadis bertubuh mungil dengan kulit hitam manis itu mengiyakan ajakan pria bertubuh jangkung yang selalu usil padanya. Dengan persetujuan mama, mereka berangkat siang menuju sore untuk memburu sunset di sana.
Tanpa bertanya apapun, Mutia bersiap mengekor ke manapun sang kakak beranjak. Dengan sepeda motor besar berwarna hitam, mereka meninggalkan rumah.
Gadis yang selalu dipanggil Gendis oleh Malik itu hanya membawa diri dan beberapa camilan yang tersedia di kulkas rumah. Mengenakan celana jins hitam dan kaos kehitaman kebesaran. Dilengkapi jilbab pashmina instan yang senada.
Hanya lima belas menit diperjalanan, mereka berhenti di sebuah depot pengisian bahan bakar. Bukan untuk mengisi bensin. Di sana ada lebih dari tujuh motor yang sudah terparkir rapi. Ternyata rombongan itu menunggu kedatangan pimpinan mereka yang baru saja tiba.
"Ndis, kamu bonceng, Galuh, ya? Aku udah janjian sama Aya, nih!" Tanpa merasa bersalah, pria dengan jaket kulit coklat itu menaik turunkan alisnya. Kebiasaan Malik saat memohon sesuatu pada Mutia.
"Maas... Kenapa nggak bilang kalau bakal pergi rombongan sebanyak ini?" Muti mencoba bersabar, padahal dalam hati ia ingin sekali berteriak meminta pertanggungjawaban kepada kakak resenya itu. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan marah.
"Ya, kan kamu nggak nanya, Gendis manis. Sekarang, turun!"
"Iih... Mas Cungkring ngeselin! Mana ada kakak yang sekejam dirimu, Mas!" Kedua tangan Mutia memukul-mukul punggung pria itu sekuat tenaga.
"Sst... Aku punya rencana bagus, kok. Tenang, aja. Kamu nggak bakalan kesepian. Tuh, Galuh ini laki-laki tampan nan bertanggung jawab. Idaman semua cewek banget pokoknya. Gih, ke sana!"
"Anterin, kali."
"Emang, kamu anak balita?"
"Mas Cungkring...!"
Dengan langkah berat, Mutia meninggalkan sepeda motor hitam itu, menuju utara di mana pangeran berkuda merah menunggu. Iya, Galuh duduk manis dengan sebuah buku ditangan. Ajib bener.
"Hai, Mas. Aku Mutia." Sangat pelan, Mutia tidak ingin semua rombongan mengetahui keberadaannya. Cukup kakaknya yang ngeselin dan Galuh saja yang tahu.
"Iya. Ada yang bisa dibantu?" Pria berwajah tampan dengan mata indah dan alis tebal itu menutup bukunya dan menatap sang pengajak bicara.
"Aku adiknya Mas Malik. Kata dia disuruh nebeng, Mas Galuh," jelas gadis yang sudah merah padam wajahnya. Campuran marah dan malu yang berpadu.
"Oh, boleh. Ayok naik. Semua sudah bersiap."
"Makasih."
***
Sudah satu jam perjalanan dari titik kumpul. Rombongan itu mulai melewati hutan-hutan dengan pohon rimbun. Udara yang dirasakan semakin dingin. Mutia sedikit menggigil karena hanya mengenakan jaket tipis yang biasa ia pakai untuk melindungi dari panas.
Ia benar-benar tidak bisa menikmati liburannya kali ini. Rasa dingin itu membuat tubuhnya lemah dan pusing kepala. Tanpa sengaja ia memegang pria pengemudi di depannya.
"Mutia, tanganmu sangat dingin!" tanya Galuh mulai khawatir.
Ia menepikan motornya, dan berhenti. Beberapa motor dibelakang turut melakukan hal yang sama.
Galuh segera membuka jaketnya begitu mengetahui bahwa gadis yang bersamanya mengalami hipotermia. Melihat kondisi Mutia yang menggigil hebat, pria bermata teduh itu menarik kedalam pelukannya. Hingga si Cungkring datang.
"Ndis, kamu nggak apa-apa?" Menarik pelukan Galuh dalam pelukannya, setelah memberikan jaket kulitnya.
"Duh, bodoh banget sih, segala lupa kalau ke puncak itu dingin. Mana cuma pakai jaket kaya gini." Ditengah kekhawatirannya, kakak itu masih saja bisa mengomel.
***
"Nah, sekarang bisa panas, Ndis. Noh, naik tangga segitu!" Sejak gejala hipotermia tadi, Mutia berpindah motor bersama Malik. Gadis berhidung bangir itu segera membaik karena pertolongan yang cepat.
"Aku duluan, ya! Dadah!" Pria itu berlari meninggalkan adiknya.
"Maas.... Tungguin!"
Mutia masih mengenakan jaket beberapa lapis. Dengan langkah-langkah kecilnya ia menekuri tangga menuju puncak. Sesekali berhenti, mengambil napas dalam. Menikmati keindahan semesta yang terbentang di depan matanya.
Ia berjalan sendirian. Hingga semua rombongan mendahului jalan, dan ia tertinggal di belakang sendiri.
"Ah, Mas Cungkring benar-benar kejam!" rutuk gadis yang sudah berpeluh keringat itu sambil duduk di anak tangga. Ia mengambil air dalam ranselnya. Ternyata masih ada Galuh di sana.
"Mas, ngapain di situ?"
"Jalan."
"Mau nemenin aku?"
"Hmm."
"Makasih, ya tadi menyelamatkan aku. Sampai lupa karena buru-buru berpindah motor Mas Malik."
"Hmm."
"Ya udah silakan kalau mau duluan." Gadis itu menyerah. Mendengar jawaban dari lawan bicara hanya hmm hmm seperti lagunya Sabyan. Mutia memonyongkan bibirnya.
"Maaf tadi aku meluk kamu." Akhirnya suara itu terdengar.
"Iyakah? Nggak kerasa, tau. Peluk lagi boleh?"
"Setelah ijab."
Mutia dan Galuh berjalan bersama melewati setiap tangga. Hingga tiba dipuncak. Gadis itu berteriak histeris.
"Woy. Kenapa, Ndis?"
"MasyaAlloh cantik sekali gambar ini, ya Allah. Setiap aku melihat, semakin aku terpesona dengan semesta ini. Makin sempurna dan makin aku merasa bukan apa-apa."
Sesuai janji Galuh saat ditangga tadi. Sebagai bukti keseriusan yang telah ia katakan. Maka ia berteriak.
"Mutiaa... Will you marry me?"
Langit sore dengan sinar mentari yang mulai meredup menjadi saksi kisah Mutia. Hamparan kabut putih tebal yang seolah berada di atas awan turut serta berdendang riang. Pohon dan dedaunan mengeluarkan suara saat bergesekan dengan angin petang.
Hari ini mereka mengingat hari itu, dan tertawa bersama.
"Kenapa suka sama aku, Mas?"
"Kamu tuh mirip Mina."
Mina siapa? Apakah mantannya? Atau cinta pertamanya?
"Mina siapa?"
"Mau lihat gambarnya?" Pria dengan senyuman memesona itu membuka ponsel.
"Mirip banget, kan? Imut, lucu dan menggemaskan."
"Ah, ternyata." Mutia tampak sangat lega setelah melihat gambar Mina. Mina yang seekor kucing berbulu coklat.
Cerita membuat saya senyum sendiri mengingat kisa-kisah lama waktu di SMA...Masya Allah
BalasHapusSaya suka ceritanya di tunggu cerita selanjutnya
BalasHapusUdah serius baca lho. Ternyata mirip kucing π
BalasHapusGendis dan Galuh, so sweet π
BalasHapusJadi seperti baca cerpen pas SMA dulu. So sweet
BalasHapusKena plotwist di akhir, aku kira Mina TWICE, taunya mina kucing si gemoi :(((
BalasHapusSweet memory... jadi ingat masa lalu saat suka-sukanya baca cerpen.. sukses slalu mbak..
BalasHapusseru cerpennya Mbak
BalasHapusAahhaha. Bisa aja mirip sama kucing. Hihi
BalasHapusWkwkwk, si Mina kirain siapa, si pus ternyata πππ
BalasHapusAku senyum..senyum sendiri baca cerpennya kak...Baguss...
BalasHapusDuh berasa ikut pada masa mereka.. eh ternyata aku sudah beranak 3...wkwkw
lucu, kiraan mina tu siapa gitu he he
BalasHapusCerpen yang bikin mesem-mesem π€π€
BalasHapusDisamain sama kucing?π
BalasHapusCerpen ya ini... aku kira curhatan hihi. Nama empusnya lucu syekali... aku kira orang :)
BalasHapusCerita pendeknya menarik mba. Cat lover ya?
BalasHapusaku pikir cerita asli yg diceritakan kayak story teller gitu π kereenn cerpennya
BalasHapusWaduh dimiripinnya sama kucing. Bagus mbak cerpennya
BalasHapusSweet banget kisahnya. Mungkin Galuh udah ngincer duluan ya.
BalasHapusHahaha, inget cinta monyet jaman muda dong akuuh π
BalasHapuslucu dan ringan mba ceritanya, bacanya bikin senyum-senyum. hehe
BalasHapusTeringat zaman zaman kala itu hihihi
BalasHapus